Masih percayakah anda dengan pendidikan agama??,,
Globalisasi yang
tak terelakkan membuat sebagian anak terjerat arus budaya barat. Jika
tak pandai memfilter akal budi dari hasil globalisasi tersebut, maka
kehancuran generasi akan terjadi. Proses pergeseran sikap
dan mentalitas generasi muda untuk dapat hidup sesuai dengan tuntutan
masa kini, mulai terlihat di berbagai sisi kehidupan. Sikap individualisme yang sudah mulai menggerogoti jiwa anak bangsa secara tidak langsung membuat pola pikir mereka kini berkiblat pada kebudayaan barat.
Pola hedonisme, tindak premanisme, dan masih banyak lagi bukti
pergeseran moral kini, menjadi bukti kemunduran akibat globalisasi yang
tak tersaring dengan baik.
Mencicipi modernisasi ternyata harus
memiliki pondasi yang kuat. Maka, sejak dini pendidikan anak harus
menjadi perhatian penting bagi para orang tua. Karena dengan
pendidikanlah anak akan terbentuk menuju pribadi insan kamil. Pemilihan
tempat menuntut ilmu yang memberikan dasar ilmu yang kokoh, harus
diutamakan. Tapi tetap tak melupakan pendidikan di rumah, yakni
pendidikan dari orang tua dan keluarga.
Memilih sekolah bukan hal yang mudah. Orang tua pasti mengharapkan sekolah yang unggul bagi anak mereka. Suyanto
dalam Elfahmi (2006) menegaskan bahwa sekolah unggul memiliki ciri-ciri
tertentu, yaitu: (1) memiliki budaya akademik yang kuat, (2) memiliki
kurikulum yang selalu relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi, (3) memiliki komunitas sekolah yang selalu menciptakan
cara-cara atau teknik belajar untuk belajar yang inovatif, (4)
berorientasi pada pengembangan hard knowlegde dan soft knowlegde
secara seimbang, (5) proses belajar untuk mengembangkan potensi siswa
secara holistik, dan (6) mengembangkan proses pengembangan kemampuan
dan kompetensi ber-komunikasi siswa secara global.Fenomena sistem pendidikan yang tak menjawab kegusaran mayarakat akan terwujudnya akhlakul karimah, membuat para pemerhati pendidikan khawatir dengan kondisi putra-putri anak bangsa. Contohnya saja baru-baru ini, parlemen Turki meloloskan sebuah Undang-Undang yang mengijinkan orangtua untuk memindahkan anak-anak mereka ke sekolah Islam sejak dini. Pejabat pendidikan mengatakan RUU itu bertujuan untuk meningkatkan sistem pendidikan yang memburuk di sekolah-sekolah Turki. Sekitar 295 dari 550 anggota parlemen mengadakan voting untuk memutuskan peraturan tersebut pada Jumat (30/3) dan 91 orang menolaknya. Negara dengan kalangan sekuler yang dominan membuat UU ini tak melalui perjalanan yang mulus. Baku hatam ketika sidang pun tak terelakkan.
Inggris memiliki
minoritas Muslim yang cukup besar. Jumlahnya hampir mencapai 2,5 juta
Muslim. Mayoritas mereka berusia antara 13 dan 25 tahun. Namun tak
menyurutkan keyakinan untuk memberikan pendidikan Islam pada anak-anak
mereka. Kebutuhan untuk pendidikan Islam di Inggris semakin
berkembang. Orang tua muslim kini semakin banyak yang ingin
mendaftarkan anaknya ke sekolah Islam. Selama 10 tahun terakhir,
sekitar 60 sekolah Islam telah dibuka. Satu
sekolah Muslim di Birmingham, Al-Hijrah bahkan telah memperkenalkan
sistem undian untuk menentukan muridnya. Satu kursi direbutkan oleh 25
orang tua. Banyaknya permintaan terhadap sekolah Islam konon disebabkan sekolah umum tidak dapat melayani dengan baik.
Indonesia memang berbeda dengan Negara
Turki dan Inggris dari segi permasalahan yang dihadapi. Namun, Turki
dan Inggris, di tengah sekularismenya, tetap memilih jalan Islam
sebagai jalan keluar permasalahan mereka. Ini membuktikan bahwa
pendidikan Islam adalah pendidikan yang seharusnya dikedepankan demi
menancapkan pondasi yang kokoh pada anak bangsa.
Kecerdasan spiritual yang dipupuk sejak
masa kanak-kanak akan menjadi benteng pelindung dari arus budaya barat
yang kuat. Setiap anak dilatih memilah mana yang baik dan mana yang
buruk berdasarkan kacamata agama, yang tak dapat dipisahkan dari lini
kehidupan. Kurikulum yang tak berdasar dari keimanan hanya akan
menjadikan materi (nilai, gelar, dan uang) diatas segalanya. Padahal
IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) saja tidak cukup untuk
mengarungi samudra kehidupan, tapi juga perlu IMTAQ (Iman dan Taqwa). Pendidikan Islam yang berpadu dalam pendidikan ruhiyah, fikriyah (pemahaman/pemikiran) dan amaliyah (aktivitas) akan melahirkan insan tangguh.
Tidak hanya menahan arus globalisasi yang
negatif, dengan Pendidikan Islam pun diyakini akan mencetak generasi
yang bernurani. Dengan mencontoh pada suri tauladan terbaik sepanjang
masa, siswa akan diajarkan sifat amanah, fathonah, sidiq dan tabligh.
Penyakit korupsi akut yang berkerak di negeri ini, jangan sampai
tertular pada generasi muda secara estafet. Mulai dengan Pendidikan
Agama yang paripurna di kalangan remaja, kelak akan menuju negara
bersih dari korupsi. Budaya malu berbuat kesalahan akan menjadi
karakter.
Indonesia memiliki penduduk yang ke-4
terbanyak didunia yang notabene mayoritas beragama muslim terbanyak di
dunia. Namun, ternyata perhatian pemerintah masih sangat kurang
terhadap hal tersebut. Jika dilihat dari Departemen Agama, seperti dikutip
Azyumardi Azra, bahwa peranan pemerintah terhadap lembaga-lembaga
pendidikan Islam sejak awal kemerdekaan sampai sekarang dapat dikatakan
sangat minimal. Terbukti dengan menjamurnya sekolah Islam swasta daripada negeri.
Meskipun begitu, peminat pendidikan Islam
di Indonesia menurut data di Bidang Pendidikan Depag mengalami
peningkatan tiap tahunnya. Perkembangan tersebut membuktikan bahwa
pendidikan Islam tetap dilirik masyarakat ditengah pergolakan
arus liberaliseme. Berdasarkan perkembangan jumlah siswa Madrasah
Ibtidaiyah pada tahun ajaran 2007/2008 sampai tahun ajaran 2009/2010
berjumlah meningkat sebanyak 4,96%. Pada tahun ajaran yang sama,
Madrasah Tsanawiyah jumlah siswa meningkat 8,29%. Sedangkan Madrasah
Aliyah meningkat 7,21 %. Hal ini senada dengan pendapat pengamat
pendidikan, Imam Suprayogo, menyatakan minat masyarakat atas pendidikan
Islam terus meningkat. Alasannya, banyak orang tua menginginkan anaknya
tidak hanya memiliki pengetahuan umum, tapi juga agama.
Data tersebut menunjukan bahwa adanya
kepercayaan yang tak surut dari masyarakat untuk memepercayakan anak
mereka dididik dalam lingkungan Islam. Hal tersebut harus dibarengi
dengan perhatian pemerintah untuk memberikan dukungan secara intensif
demi terwujudnya Indonesia yang tetap menjunjung tinggi adat ketimuran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar